“AIR
MATA IMPIAN”
Di sebuah desa di pinggir kota, tinggallah sebuah keluarga
kecil yang hidup sederhana yang
menggantungkan hidupnya pada sebidang ladang yang tidak luas. Mereka tinggal
di sebuah rumah yang mungkin tidak layak disebut rumah, meskipun begitu keluarga
ini selalu mensyukuri apa yang telah mereka peroleh selama ini. Darsono sebagai
tulang punggung keluarganya hanya seorang buruh tani dengan pendapatan yang tak
tentu. Darsono harus mencukupi kebutuhan istri dan anaknya yang masih mengecam
pendidikan.
Suatu ketika Senja mulai tampak dari barat, seorang
laki-laki parubaya mengangkat cangkul dan mengambil ubi yang hendak dia bawa
kegubuknya, didepan gubuk anak dan isterinya pun dengan semangat menyambut
kedatangannya. Udin pun segera mengambil barang bawaan ayahnya dan
berkata : “ pak, aku bawakan cangkul dan ubinya.! ” dengan segera Darsono
memberikan barang bawaannya kepada Udin.
Matahari mulai menghilang dengan perlahan, keluarga itu pun berkumpul diteras depan
gubuk mereka sambil memakan ubi yang telah Darsono bawa dari ladangnya.
Udin pun berkata sesuatu kepada ayah dan ibunya “
pak, buk… terima kasih atas semua yang telah bapak sama ibu berikan kepadaku,
aku bangga dengan apa yang aku miliki sekarang dan aku bersyukur dapat makan
walaupun dengan ubi ini.”
Pesan Moral yang dapat dipetik. : Walaupun dalam keadaan tidak punya, keluarga Darsono tetap mensyukuri apa yang mereka peroleh selama ini, walaupun harus bekerja keras membanting tulang untuk menafkahi kebutuhan istri dan anaknya yang masih sekolah.
Pesan Moral yang dapat dipetik. : Walaupun dalam keadaan tidak punya, keluarga Darsono tetap mensyukuri apa yang mereka peroleh selama ini, walaupun harus bekerja keras membanting tulang untuk menafkahi kebutuhan istri dan anaknya yang masih sekolah.

0 komentar:
Posting Komentar