BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Saat ini minat baca masih menjadi
perkerjaan rumah yang belum terselesaikan bagi bangsa Indonesia. Berbagai
program telah dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Pemerintah,
praktisi pendidikan, LSM dan masyarakat yang peduli pada kondisi minat baca
saat ini telah melakukan berbagai kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan
apresiasi masyarakat untuk membaca, akan tetapi berbagai program tersebut belum
memperoleh hasil maksimal.
Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, maka bangsa ini perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan kebiasaan ini akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua. Dengan kata lain, apabila sejak kecil seseorang terbiasa membaca maka kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa.
Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, maka bangsa ini perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan kebiasaan ini akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua. Dengan kata lain, apabila sejak kecil seseorang terbiasa membaca maka kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa.
Pada usia sekolah dasar, anak
mulai dikenalkan dengan huruf, belajar mengeja kata dan kemudian belajar
memaknai kata-kata tersebut dalam satu kesatuan kalimat yang memiliki arti.
Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menanamkan kebiasaan membaca pada
anak. Setelah anak-anak mampu membaca, anak-anak perlu diberikan bahan bacaan
yang menarik sehingga mampu menggugah minat anak untuk membaca buku. Minat baca
anak perlu dipupuk dengan menyediakan buku-buku yang menarik dan representatif
bagi perkembangan anak sehingga minat membaca tersebut akan membentuk kebiasaan
membaca. Apabila kebiasaan membaca telah tertanam pada diri anak maka setelah
dewasa anak tersebut akan merasa kehilangan apabila sehari saja tidak membaca.
Dari kebiasaan individu ini kemudian
akan berkembang menjadi budaya baca masyarakat. Akan tetapi, pembinaan minat
baca anak saat ini sering terbentur dengan masalah ketersediaan sarana baca.
Tidak semua anak-anak mampu mendapatkan buku yang mampu mengugah minat mereka
untuk membaca. Faktor ekonomi atau minimnya kesadaran orang tua untuk menyediakan
buku bagi anak menyebabkan anak-anak tidak mendapatkan buku yang dibutuhkan.
Tidak tersedianya sarana baca merupakan masalah besar dalam pembinaan minat
baca anak. Anak-anak tidak dapat memanjakan minat bacanya karena tidak tersedia
sarana baca yang mampu menggugah minat anak untuk membaca.
Padahal, pembinaan minat baca anak
merupakan modal dasar untuk memperbaiki
dimana kondisi minat baca masyarakat saat ini.
B. Rumusan Masalah
Adapun
permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini ialah sebagai berikut:
1.
Apakah pengertian minat baca?
2.
Apakah tujuan pembinaan minat baca?
3.
Apakah faktor pendukung minat baca?
4.
Apakah faktor penghambat minat baca?
5.
Apakah peranan perpustakaan dalam
pembinaan minat baca?
6.
Apakah manfaat membaca?
7.
Bagaimana cara meningkatkan minat baca pada
siswa?
8.
Bagaimana upaya untuk menumbuhkan minat
baca?
C. Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
1.
Pengertian minat baca.
2.
Tujuan pembinaan minat baca.
3.
Faktor pendukung minat baca.
4.
Faktor penghambat minat baca.
5.
Peran perpustakaaan dalam pembinaan minat baca.
6.
Manfaat membaca.
7.
Beberapa cara meningkatkan minat baca pada siswa.
8.
Upaya menumbuhkan minat baca.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini
adalah:
1.
Menambah pengetahuan dan wawasan tentang minat membaca
2.
Untuk membantu mahasiswa dalam pembahasan materi.
3.
Sebagai sarana untuk menguji dan meningkatkan
kemampuan mahasiswa dalam menyusun makalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Minat Baca.
Minat merupakan gambaran sifat dan
ingin memiliki kecenderungan tertentu. Minat juga diartikan suatu momen dari
kecenderungan yang terarah secara intensif pada suatu tujuan atau objek yang
dianggap penting. Objek yang menarik perhatian dapat dapat membentuk minat
karena adanya dorongan dan kecenderungan untuk mengetahui, memperoleh, atau
menggali dan mencapainya.
Terdapat dua
pengertian minat baca yaitu :
1. Minat baca adalah
suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan yang senang
terhadap kegiatan membaca dengan kemauannya sendiri.
2. Minat baca adalah
merupakan hasrat seseorang atau siswa terhadap bacaan, yang mendorong munculnya
keinginan dan kemampuan untuk membaca, diikuti oleh kegiatan nyata membaca
bacaan yang diminatinya. Minat baca bersifat pribadi dan merupakan produk
belajar (Sudarman, 1997 : 44).
Ada beberapa
jenis minat baca bisa melalui:
1. Minat baca spontan, yaitu kegiatan membaca yang
dilakukan atas kemauan inisiatif pribadi, tanpa pengaruh dari pihak lain atau
pihak luar.
2. Minat baca terpola, yaitu kegiatan membaca yang
dilakukan masyarakat sebaga hasil atau akibat Pengaruh langsung dan disengaja
melakukan serangkaian tindakan dan program yang terpola terutama kegiatan
belajar mengajar di sekolah.
Tradisi membaca dan menulis memang belum dapat diharapkan dari masyarakat (Sugono, 1995 : 5). Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca. Umumnya kemampuan membaca dimaksud, ditujukan oleh pemahaman seseorang pada bacaan yang dibacanya dan tingkat kecepatan yang dimiliki.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan dalam membaca antara lain :
1. Tingkat inteligensi,
2. Kemampuan berbahasa
3. Sikap, minat, emosi
4. Keadaan membaca
5. Kebiasaan membaca
6. Pengetahuan tentang cara membaca
7. Latar belakang sosial ekonomi dan budaya Pengetahuan
1. Tingkat inteligensi,
2. Kemampuan berbahasa
3. Sikap, minat, emosi
4. Keadaan membaca
5. Kebiasaan membaca
6. Pengetahuan tentang cara membaca
7. Latar belakang sosial ekonomi dan budaya Pengetahuan
Untuk memupuk, membina dan membimbing minat baca
siswa, maka peranan pendidikan baik guru, orang tua, maupun pendidik yang lain
sangat menentukan. Pendidik harus dapat menciptakan lingkungan yang mendidik
karena mereka berfungsi sebagai fasilitator sekaligus motivator. Lingkungan
pendidikan yang dimaksud adalah situasi belajar mengajar yang lancar.
Selanjutnya diharapkan membaca bukan lagi menjadi beban berat, tetapi merupakan
suatu kebutuhan. Sehingga tujuan pendidikan nasional dalam menciptakan manusia
pembangunan dapat segera terwujud bahkan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa
akan membuahkan hasil yang dapat diandalkan.
B.
Tujuan Pembinaan Minat Baca.
Secara umum, minat baca bangsa
Indonesia terutama anak-anak relatif sangat rendah. Terutama jika dibandingkan
dengan minat baca negara-negara berkembang lainnya. Oleh karena itu, perlu ada
upaya untuk menanamkan minat baca sejak anak-anak usia dini.
Tujuan Umum
Adalah untuk menciptakan masyarakat membaca (reading
society), menuju masyarakat belajar
(learning society) dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk
menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sebagai subyek
pembangunan nasional menuju masyarakat yang madani.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang dapat dilakukan adalah :
1. Menumbuhkan kebiasan membaca pada seseorang, sehingga
menimbulkan rasa terbiasa untuk membaca setiap saat.
2. Mewujudkan suatu sistem penumbuhan dan pengembangan
nilai ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
3.
Mengembangkan masyarakat baca (reading society) lewat
pelayanan masyarakat.
4. Meningkatkan pembinaan minat baca merupakan salah satu
tujuan perpustakaan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa.
Menurut Welt Gray & Rogers (1995) menyebutkan beberapa manfaat membaca diantaranya :
1. Meningkatkan
Pengembangan Diri
2. Memenuhi
Tuntutan Intelektual
3. Memenuhi
Kepentingan Hidup
4. Meningkatkan
Minatnya Terhadap Suatu Bidang
5. Mengetahui
Hal-hal yang Aktual
C.
Faktor Pendukung Minat Baca.
Untuk membina dan mengembangkan
minat baca siswa tidak bisa terlepas dari pembinaan kemampuan membaca siswa,
sebab seperti sudah dijelaskan bahwa untuk menjadi minat harus mampu membaca.
Adapun beberapa faktor dalam pembinaan minat baca. Faktor-faktor
ini dapat dibedakan yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor
Internal, adalah faktor yang dipengaruhi oleh diri sendiri akan adanya rasa
ketertarikan untuk membaca.
Misalnya ada seorang siswa yang sangat gemar membaca
karena dia sangat tertarik untuk mengetahui isi dari sebuah buku yang ia temui,
atau dia ingin mengetahui ilmu yang lebih luas lagi melalui membaca buku-buku
yang bermanfaat.
b. Faktor
Eksternal, adalah faktor yang dipengaruhi dari luar diri siswa tersebut atau faktor dari luar.
Misalnya ada seorang siswa yang suka membaca karena
terbawa oleh temannya yang kebetulan temannya itu seorang yang gemar membaca.
Atau bisa juag karena adanya motivasi yang kuat dari guru dan orang tua murid.
Faktor internal disamakan dengan
motivasi internal, sedangkan faktor eksternal disamakan dengan motivasi
eksternal (Smit, 584-586).
Adapun faktor –faktor yang mendukung pembinaan minat baca siswa adalah:
·
Secara alamiah orang orang beragama mempunyai kitab
suci yang harus di baca
·
Orang yang berpendidikan sudah relatif banyak
·
Bahan bacaan sudah relatif tersedia.
·
Perpustakaan-perpustakaan sudah mulai berkembang
·
Tersedianya perpustakaan yang memadai.
·
Perhatian pemerintah sudah ada walau belum memadai.
·
Faktor transportasi, komunikasi, informasi dan iptek
relatif baik.
Untuk meningkatkan minat baca pada siswa ada beberapa
kiat yang bisa dilakukan antara lain :
o Memperkenalkan buku-buku bacaan.
o Memperkenalkan hasil karya sastrawan.
o Pameran buku.
o Majalah dinding.
o Mengadakan kuis.
o Memberikan bimbingan membaca.
o Memperkenalkan hasil karya sastrawan.
o Pameran buku.
o Majalah dinding.
o Mengadakan kuis.
o Memberikan bimbingan membaca.
D. Faktor Penghambat Minat Baca.
Rendahnya minat baca para siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Karena membaca bukan budaya masyarakat Indonesia. Kita
lebih terbiasa mendengar orang tua ataupun kakek nenek kita bercerita dan
mendongeng ketimbang membaca buku cerita.
b. Pengaruh budaya dengar, tonton, dan media elektronik
yang berkembang pesat. Anak tidak dibiasakannya mengisi waktu luang dengan
membaca buku, sebaliknya tahan berlama-lama menonton televisi. Ada yang
mengatakan bahwa budaya membaca di Indonesia yang memprihatinkan ini karena
kita langsung meloncat dari budaya lisan ke gambar (televisi dan film).
Sedangkan negara-negara barat dimulai dari budaya bicara, baca, baru ke gambar.
c. Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat pelajar
atau mahasiswa harus membaca buku, mencari, dan menentukan informasi lebih dari
sumber yang diajarkan di sekolah
d. Kurang tersedianya buku-buku yang berkualitas dengan
harga yang terjangkau, juga menjadi faktor penyebab rendahnya minat membaca.
Hal itu diperparah minimnya perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah
dijangkau. Juga kurang memadainya koleksi, fasilitas, dan pelayanan yang ada.
Termasuk, tidak meratanya penerbitan dan distribusi buku ke berbagai daerah.
e.
Masih rendahnya kemahiran membaca siswa di sekolah
f.
Banyaknya jenis hiburan, permainan dan tayangan TV
yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku.
g.
Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat
siswa/mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan atau
mencari informasi dan pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas.
h.
Belum banyak dirasakan manfaat langsung dari membaca.
i.
Bahan bacaan belum merata.
j.
Pembinaan Perpustakaan belum merata.
k.
Kemajuan Teknologi lebih menarik perhatian.
l.
Daya beli bahan bacaan masih kurang.
m.
Banyak sekolah belum menyelengarakan perpustakaan
sekolah.
n.
Tidak adanya tenaga pustakawan yang tetap, kebanyakan
perpustakaan dikelola oleh seorang guru atau tenaga administrasi sekolah yang
tidak sepenuhnya paham tentang Perpustakaan.
o.
Koleksi perpustakaan sekolah umumnya sangat lemah dan
belum terarah.
p.
Sumber dana yang sangat terbatas.
q.
Banyak sekolah tidak mempunyai ruangan khusus untuk
perpustakaan.
E. Peranan Perpustakaan dalam
Pembinaan Minat Baca.
Salah satu tujuan perpustakaan
adalah untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat, untuk meningkatkan kecerdasan
masyarakat dapat dilakukan melalui pembinaan minat baca. Jadi, perpustakaan
merupakan ujung tombak dalam pembinaan minat baca. Pembinaan minat baca
diperpustakaan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:
- Menyediakan Perpustakaan yang representatif, baik
gedung maupun ruangan dan perabotan yang memadai
- Koleksi yang terus berkembang dan bervariasi
- Tenaga pengelola perpustakaan yang profesional
- Tersedianya dana secara rutin
- Pelayanan perpustakaan yang prima beroreintasi
pada kepuasan pengguna.
- Mengadakan promosi perpustakaan dan pameran buku.
- Menjalin kerjasama dengan perpustakaan lain untuk
meningkatkan pelayanan
- Ikut membantu pengembangan perpustakaan dengan
cara membaca diperpustakaan
F.
Manfaat
Membaca.
Membaca merupakan aktivitas yang
menyenangkan sekaligus mencerahkan. Membaca membantu kita lebih berwawasan,
sukses, dan hidup lebih baik. Tetapi ternyata kegemaran membaca belum dimiliki
mayoritas orang, sebab mereka belum mengerti berjuta manfaat dari membaca.
Berikut ini adalah beberapa manfaat dari membaca, yang mungkin dapat menggugah
semangat dan kemauan untuk memahami isi buku-buku bacaan, yaitu :
- Membaca membangun pondasi yang kuat untuk dapat mempelajari dan memahami berbagai disiplin ilmu sekaligus mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
- Senang membaca meningkatkan kecerdasan verbal dan linguistik, karena membaca memperkaya kosa kata dan kekuatan kata-kata.
- Membaca mencegah rabun mata, karena membaca melatih dan mengaktifkan otot-otot mata.
- Membaca mencegah kepikunan, karena melibatkan tingkat konsentrasi lebih besar, mengaktifkan, dan menyegarkan pikiran.
- Kegemaran membaca membantu meningkatkan kecerdasan, serta meningkatkan daya kreativitas dan imajinasi.
- Membaca membantu memperbaiki rasa percaya diri, mengembangkan kemampuan memanajemen emosi, dan meningkatkan kemampuan melakukan interaksi sosial positif dimana pun dan kapan pun.
- Membaca membentuk karakter dan kepribadian, sampai-sampai ada pepatah yang mengatakan, "Apa yang kita baca sekarang, seperti itulah kita 20 tahun yang akan datang".
- Membaca menjadikan kita lebih dewasa, lebih arif dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.
- Membaca adalah kegiatan yang sarat manfaat dan sangat penting dalam kehidupan kita. Banyak orang sukses dan cerdas karena kecintaan mereka membaca buku dan belajar.
Oleh sebab
itu, tingkatkan intensitas membaca terutama di waktu senggang Anda.
G. Beberapa Cara Meningkatkan Minat Baca pada Siswa.
Adapun beberapa cara untuk meningkatkan minat baca pada siswa adalah:
1. Sistem
Pendidikan Nasional dan Kurikulum
Sistem Pendidikan Nasional yang
diatur dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 diharapkan dapat memberikan
arah agar tujuan pendidikan di tanah air semakin jelas dalam mengembangkan
kemampuan potensi anak bangsa agar terwujudnya SDM yang kompetitif dalam era
globalisasi, sehingga bangsa Indonesia tidak selalu ketinggalan dalam
kecerdasan intelektual. Oleh sebab itu penyelenggaraan pendidikan harus
memenuhi beberapa prinsip antara lain :
1)
Sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
2)
Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.
Kedua prinsip di atas harus saling
berkaitan. Artinya dalam proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
sepanjang hayat, harus diisi dengan kegiatan pengembangan budaya membaca, menulis
dan berhitung. Pengembangan kurikulum secara berdiversifikasi khususnya dalam
Bahan Kajian Bahasa Indonesia harus memuat kegiatan pengembangan budaya membaca
dan menulis dengan alokasi waktu yang cukup memberi kesempatan banyak untuk
membaca.
Demikian pula dalam bahan kajian seni dan
budaya, cakupan kegiatan menulis harus jelas dan berimbang dengan kegiatan
menggambar/melukis, menyanyi dan menari. Kegiatan membaca dan menulis tidak
saja menjadi prioritas dalam Bahan Kajian Bahasa Indonesia dan Bahan Kajian
Seni dan Budaya, tetapi hendaknya juga secara implisit harus tercantum dalam
bahan-bahan kajian lainnya.
2. Paradigma
Tenaga Kependidikan
Guru, dosen maupun para pustakawan
sekolah sebagai tenaga kependidikan, harus merubah mekanisme proses pembelajaran
menuju “membaca” sebagai suatu sistem belajar sepanjang hayat. Setiap guru, dosen dalam semua bahan
kajian harus dapat memainkan perannya sebagai motivator agar para peserta didik
bergairah untuk banyak membaca buku-buku penunjang kurikulum pada bahan kajian
masing-masing. Misalnya dengan memberi tugas-tugas rumah setiap kali selesai pertemuan dalam
proses pembelajaran. Dengan sistem reading drill secara kontinu maka
membaca akan menjadi kebiasaan peserta didik dalam belajar.
Pustakawan pada perpustakaan sekolah
yang didukung oleh para guru kelas sedapat mungkin harus dapat menciptakan
“kemauan” para peserta didik untuk banyak membaca dan meminjam buku-buku di
perpustakaan. Sistem promosi perpustakaan harus diadakan dan diprioritaskan
secara kontinu agar perpustakaan dikenal apa fungsi, arti, kegunaan dan
fasilitas yang dapat diberikannya. Tanpa promosi perpustakaan yang gencar,
mustahil orang akan mengenal dan tertarik untuk datang ke perpustakaan.
3. Pengelolaan
Perpustakaan Sekolah dengan Baik
Perpustakaan merupakan salah satu
sumber belajar yang sangat penting untuk menunjang proses belajar mengajar.
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah
memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas
siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Melalui penyediaan
perpustakaan, siswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik secara fisik
maupun mental dalam proses belajar (Darmono, 2001 : 2). Perpustakaan sekolah
sebagai salah satu sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar mengajar siswa
memegang peranan yang sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan
di sekolah. Perpustakaan harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu
siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Pemanfaatan perpustakaan
sekolah secara maksimal, diharapkan dapat mencetak siswa untuk senantiasa
terbiasa dengan aktifitas membaca, memahami pelajaran, mengerti maksud dari
sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan karya bermutu.
Kebiasaan membaca buku yang dilakukan oleh siswa, akan meningkatkan pola
pikirnya sehingga perlu dijadikan aktivitas kegiatan sehari-hari. Buku harus
dicintai dan bila perlu dijadikan sebagai kebutuhan pokok siswa dalam membantu
tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Perpustakaan sekolah dapat dijadikan
sumber belajar siswa baik dalam proses kegiatan belajar mengajar secara formal
maupun non formal untuk membantu sekolah dalam upaya mencapai tujuan pendidikan
di sekolah tersebut. Hal penting yang harus dilakukan oleh pihak sekolah untuk
meningkatkan minat baca siswa adalah dengan melengkapi koleksi perpustakaan,
baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Sudah saatnya perpustakaan sekolah
tidak hanya berisi buku-buku paket, koleksi perpustakaan juga dapat berupa
buku-buku bacaan yang mampu menarik minat siswa untuk membaca.
4. Motivasi Guru
dan Keluarga
Pada dasarnya, pihak sekolah / guru
bertanggungjawab ikut menumbuhkan minat baca bagi siswa, karena dari sanalah
sumber kreatifitas siswa akan muncul. Sekolah harus mengajar anak-anak berpikir
melalui budaya belajar yang menekankan pada memahami materi. Selain itu, juga keluarga harus
mendukung, terutama dari orang tua anak-anak yang harus mencontohkan kegemaran
membaca kepada anak-anak mereka. Selain itu, orang tua juga harus memperhatian
dan mengawasi terhadap kegiatan anak-anaknya. Sementara terkait dengan
fasilitas, ketersediaan bahan bacaan di rumah juga dipenuhi agar membuat anak
berminat pada kegiatan membaca karena sumber bacaan yang tersedia di rumah.
Berikut ini,
hal-hal yang dapat membangkitkan minat membaca :
1. Sesuaikan tingkat bacaan dengan tingkat kosa kata,
sebab keengganan meneruskan bacaan seringkali dikarenakan kita sulit memahami
arti katanya.
2. Luangkan waktu secara rutin untuk membaca (misalnya
setengah jam per hari), karena langkah ini lambat laun akan meningkatkan kemampuan
memahami berbagai gaya tulisan dan kosa kata baru.
3. Mencoba menulis tentang apa pun yang dianggap menarik,
misalnya : tentang perasaan, pengalaman, cara memandikan kucing, menanam pohon,
membuat kue, dan lain sebagainya. Mencoba menulis akan meningkatkan minat
membaca.
4. Berusaha menggunakan waktu untuk membaca dengan selalu
membawa bahan bacaan dimana pun berada. Simpan buku atau majalah dalam tas,
ruang keluarga atau tempat yang sering Anda gunakan, sehingga memungkinkan Anda
menjangkau dan membaca.
5. Tentukan berapa banyak buku yang ingin Anda baca dalam
kurun waktu tertentu. Mulailah memasang target dengan disiplin tinggi, karena
langkah ini melatih kemampuan meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca lebih
banyak hal.
6. Buatlah daftar buku yang sudah Anda baca dan catatan
isi buku tersebut. Simpanlah catatan tersebut dengan rapi di tempat favorit Anda,
misalnya : di buku harian, di
komputer, di lemari, dan lain sebagainya.
7. Matikan televisi, karena televisi tidak mengajak kita
aktif belajar dan berpikir kreatif.
Daripada waktu terbuang untuk memindah channel televisi mencari acara televisi
yang bagus, bisa jadi waktu tersebut sudah cukup banyak untuk menyelesaikan
membacasebuah buku.
8. Bergabunglah dengan kelompok baca, dimana dalam periode tertentu para anggotanya berkumpul
untuk mendiskusikan topik bacaan yang telah sama-sama tentukan sebelumnya.
Berkomitmen terhadap kelompok baca memberikan momentum yang lebih besar untuk
menyelesaikan bacaan buku, dan menciptakan forum yang luar biasa untuk
berdiskusi dan bersosialisasi seputar tema buku
9.
Sering-seringlah mengunjungi toko buku atau
perustakaan, karena kesempatan melihat-lihat buku akan melatih mental membaca
sebagai kebutuhan dan menginspirasi banyak hal baru yang menarik untuk dibaca.
10. Bangunlah
strategi, yaitu dengan menentukan sendiri cara yang baik menurut Anda untuk
meningkatkan aktivitas membaca, sehingga Anda semakin rajin membaca dan
mendapatkan manfaat yang lebih besar dari buku yang Anda baca.
H. Upaya Menumbuhkan Minat Baca.
Upaya yang
dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca adalah:
1. Proses pembelajaran di sekolah harus dapat mengarahkan
kepada peserta didik untuk rajin membaca buku dengan memanfaatkan literatur
yang ada di perpustakaan atau sumber belajar lainnya.
2.
Menekan harga buku bacaan maupun buku pelajaran agar
terjangkau oleh daya beli masyarakat.
3.
Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik.
4.
Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya
minat baca anak.
5.
Menumbuhkan minat baca sejak dini.
6.
Meningkatkan frekuensi pameran buku di setiap
kota/kabupaten dengan melibatkan penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat
pecinta buku, Depdiknas, dan sekolah-sekolah
7.
Di rumah orang tua memberikan contoh membaca untuk
anak-anaknya.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembinaan dan Pengembangan minat baca siswa tidak terlepas dari pembinaan kemampuan siswa dalam membaca, sebab untuk menjadi orang yang minat tentu harus mampu membaca. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
Pembinaan dan Pengembangan minat baca siswa tidak terlepas dari pembinaan kemampuan siswa dalam membaca, sebab untuk menjadi orang yang minat tentu harus mampu membaca. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Bahwa minat
baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak relatif rendah. Mereka lebih
senang mencari hiburan pada acara di TV, warnet, mall, playstation atau tempat
hiburan lainnya dibanding membaca buku di perpustakaan
2.
Minat baca perlu ditumbuhkan sejak usia dini. Sejak
mereka telah bisa membaca
3. Sekolah dan
guru belum membudayakan siswa untuk menggunakan perpustakaan sebagai salah satu
sumber pelajar. Sehingga siswa sangat rendah apresiasinya terhadap karya sastra
maupun buku maupun karya tulis lainnya.
4. Perpustakaan merupakan faktor yang terpenting dalam
meningkatkan Pembinaan minat baca masyarakat.
5. Pembinaan minat baca merupakan salah satu tujuan
perpustakaan dalam rangka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
6.
Minat dan gemar membaca tidak dengan sendirinya
dimiliki oleh seseorang, untuk itu harus dipupuk dan dibina mulai dini.
7. Karena pentingnya pembinaan minat baca untuk itu semua
unsur, maka semua unsur harus ikut bertanggung jawab, baik lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah melalui perpustakaan dan pemerintah.
B.
Saran.
Berdasarkan simpulan tersebut
diatas, maka dapat dikemukakan saran-saran untuk menumbuhkan minat baca anak
sebagai berikut :
1. Perlu
digalakkan event-event (acara) yang dapat menumbuhkan minat baca di masyarakat
luas, seperti acara-acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan
di Indonesia, diantaranya ada “Hari Buku Nasional” dan “Hari Kunjungan
Perpustakaan”.
2. Orang tua
dapat menjadi contoh di rumah dengan membiasakan membaca apa saja, menyediakan
bahan-bahan bacaan yang menarik dan mendidik, mengajak anak berkunjung ke
pameran buku sesering mungkin dan memasukkan anak menjadi anggota perpustakaan.
3. Memperbanyak
jumlah perpustakaan secara merata di setiap kota/kabupaten di Indonesia.
4. Orang tua
dan guru sebaiknya memberikan motivasi yang kuat bagi anaknya supaya minat baca
meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim. 2002. Peningkatan Minat Baca. Jakarta: Erlangga.
Basuki, Sulistyo.1992. Pengantar Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia.
Soedarso, 1988. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Balai Pustaka.
Nurhadi, Imam. 1988. Pembinaan Minat, Kebiasaan dan Budaya Baca. Jakarta: Perpustakaan
Nasional RI.
Baderi, H. A. 2005. Meningkatkan Minat Baca Masyarakat melalui Suatu Kelembagaan Nasional,
Wacana ke Arah Pembentukan Sebuah Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat
Membaca. Orasi Ilmiah Pengukuhan
Pustakawan Utama. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (www.republika.co.id)
http//wikipedia.com
http//duniaperpustakaan.com

0 komentar:
Posting Komentar