Di bawah ini adalah 5 Rumus Ajaib Belajar Menulis Buku. Silakan lahap sampai habis.
1. Knowledge Is Power (Pengetahuan Adalah Kekuatan)
Knowledge is power. Dalam menulis buku, Anda butuh pengetahuan. Bila Anda tahu cara menulis buku yang baik dan benar, Anda akan sangat beruntung karena akan ada banyak buku yang akan Anda terbitkan.
Memiliki pengetahuan yang tepat sama dengan memiliki kekuatan yang
besar. Coba bayangkan, bila Anda tahu sebuah tambang emas. Juga Anda
tahu cara mengeksplorasinya, maka Anda akan sangat bahagia. Bahkan Anda
adalah orang yang paling bahagia di dunia ini karena Anda memiliki power
yang luar biasa, pengetahuan.
Untuk mendapatkan pengetahuan, kuncinya hanya satu: Belajar.
Bila suka belajar, Anda akan tahu. Namun sebaliknya, cobalah tidak
belajar, dunia Anda akan gelap. Anda tidak akan bahagia karena Anda
tidak tahu tambang emas Anda.
Begitu pula, untuk mendapatkan pengetahuan menulis buku, kuncinya hanya satu: Belajar.
Bila Anda mau dan suka belajar, Anda akan tahu. Namun bila Anda
menganggap belajar itu mahal, maka cobalah ketidaktahuan. Ketidaktahuan
jauh lebih mahal harganya. Bila Anda tidak tahu bagaimana cara RAHASIA menulis buku
yang baik dan benar, maka menulis buku akan menjadi masalah besar bagi
Anda. Seperti lumrah orang berkata, apa saja yang tidak Anda ketahui,
tidak dapat menolong Anda.
2. Work is a pleasure (Bekerja Itu Menyenangkan)
Work is a pleasure. Bila Anda tahu tambang emas, serta hal yang
berkaitan dengannya, dan Anda bekerja dengan senang hati, maka Anda
telah berada di jalur yang benar. Anda sedang meniti jalan menuju
sukses.
Untuk menciptakan satu buku, Anda harus menulis dengan senang dan
bergembira. Anda harus seperti sedang menangguk emas. Anda harus menulis
dengan ringan dan mengalir, tidak ada beban, tidak ada tekanan.
Namun bila menulis masih terasa berat bagi Anda, berarti Anda belum
menganggap menulis buku sebagai sesuatu yang berharga seperti emas.
Bila demikian, Anda harus tetap menulis, jangan berhenti. Tenang saja
karena merasa berat dalam memulai segala hal adalah biasa. Coba
ingat-ingat lagi saat Anda pindah atau bergaul dengan lingkungan dan
orang baru, Anda merasa berat dan kaku, kan?
Begitu juga dalam memulai menulis, apalagi sudah mulai menulis buku,
Anda akan merasa berat menjalankannya. Akan ada banyak halangan dan
rintangan yang akan merayu Anda untuk tidak menyelesaikan tulisan atau
buku Anda.
Tips untuk keluar dari situasi ini adalah dengan menyadari dan
percaya bahwa, keadaan seperti ini adalah biasa dalam memulai sesuatu.
Untuk menggapai tujuan, orang harus berusaha dan berjuang terlebih
dahulu, no pain, no gain…
3. No Pain No Gain (Bila Tidak Ada Kesakitan, Maka Tidak Ada Hasil)
Akan ada banyak pain (kesakitan), akan ada banyak masalah
sepanjang jalan menuju tambang emas Anda (Gain). Memang demikianlah
aturan mainnya. Dan untuk itu, Anda harus bekerja keras untuk
mengusahakan sesuatu yang sangat Anda inginkan.
Jika semua lancar lancar saja, jika semuanya mudah mudah saja seperti
semudah membalikkan telapak tangan, maka impian Anda mungkin terlalu
kecil, atau sesuatu itu tidak layak dilakukan. Impian yang besar,
biasanya, kesakitan atau tantangannya juga besar!
Apakah Anda pernah atau bahkan sering mendengar pernyataan ini?
Ya, satu sikap wajib yang harus diambil seorang penulis yang bijak
ketika halangan dan rintangan itu terus menghadang adalah: Terus
berjuang dan Never Give Up, jangan menyerah….
4. Never Give up (Jangan Menyerah)
Bila sudah mempunyai knowledge, Anda sudah menulis dengan senang
hati, Anda telah menghadapi banyak masalah dan masalah itu sangat suka
menghadang Anda, maka lakukan terus, never give up, jangan menyerah. Bila Anda give up maka Anda tidak akan sampai sukses mendulang banyak emas. Anda tidak akan sampai menerbitkan buku.
Jangan mudah menyerah. Sebenarnya, dengan melakukan tiga hal di atas:
Mau belajar, bekerja dengan senang hati, bekerja keras, Anda sudah
dekat dengan puncak kesuksesan. Anda sudah berada di track yang benar.
Pensil, pena, keyboard komputer Anda adalah saksinya. Kursi, meja,
lantai dan dinding kamar Anda telah melihat usaha Anda. Keluarga, teman,
tetangga Anda juga tahu bahwa Anda telah melakukan hal yang benar.
Anda hanya butuh selangkah lagi untuk sukses. Anda hanya butuh
keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil dalam hidup ini bila Anda telah
berada di track yang benar.
5. Nothing is impossible (Tidak Ada yang Mustahil)
Percayalah bahwa segalanya adalah mungkin bagi orang yang
sungguh-sungguh. Segalanya akan terjadi bila Anda telah menulis dengan
segenap jiwa, dengan seluruh raga, dengan semua doa.
Apalagi sudah banyak orang yang sukses dalam menulis buku. Anda harus
lebih yakin lagi bahwa Anda pun bisa seperti mereka. Sebab
langkah-langkahnya sudah jelas. Contohnya sudah ada. Tips-tipsnya sudah
banyak bertebaran di buku, di internet dan di pelatihan menulis. Anda
tinggal contek dan ikuti semangat dan kiat-kiat keberhasilan mereka.
Bila sudah ada satu, dua, tiga orang telah berhasil menangguk emas,
maka hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil bagi orang keempat, kelima,
keenam untuk melakukan hal yang sama.
Apakah Anda sepakat dengan pernyataan ini?
Yups, Anda harus yakin dan percaya bahwa Anda bisa menangguk emas,
menerbitkan buku kesayangan Anda, seperti orang lain yang telah sukses
melakukannya. Bila keyakinan itu ada, Anda bisa menerbitkan buku Anda.
Bila keyakinan itu ada, jangankan satu buku, seratus buku pun bisa Anda
tulis dan terbitkan.
Semangat!
Demikian 5 Rumus Ajaib Belajar Menulis Buku ini saya tulis. Semoga bermanfaat.
Jumat, 14 Maret 2014
Kamis, 09 Januari 2014
Wisata Kerajinan.
Kerajinan Kasongan
Kasongan adalah nama daerah tujuan wisata di wilayah kabupaten Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta yang terkenal
dengan hasil kerajinan gerabahnya. Tempat ini tepatnya terletak di daerah
pedukuhan Kajen, desa Bangunjiwo,
kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 6 km dari Alun-alun Utara
Yogyakarta ke arah Selatan.
Hasil kerajinan dari gerabah yang diproduksi oleh Kasongan pada umumnya berupa guci dengan berbagai
motif (burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya), pot berbagai ukuran (dari yang kecil hingga seukuran
bahu orang dewasa), souvenir, pigura, hiasan dinding, perabotan seperti meja
dan kursi, dll. Namun kemudian produknya berkembang
bervariasi meliputi bunga tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya. Hasil kerajinan tersebut
berkualitas bagus dan telah diekspor ke mancanegara seperti Eropa dan Amerika. Biasanya desa ini sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan yang berkunjung
ke Yogyakarta.
Foto Kerajinan Keramik.
Foto kerajinan Gerabah
Foto Kerajinan Vas Bunga
Foto Kerajinan Guci
Foto Kerajinan Berbagai Macam Tempat Lampu
Foto Pernak Pernik Gerabah
Mari berkunjung ke Sentra Industri Kerajinan Gerabah Kasongan. Mari kita lestarikan kerajinan-kerajinan, kita jaga dan hargai hasil kerajinan para Perajin Gerabah Kasongan...
Sekian Terima Kasih...
Sekian Terima Kasih...
Wisata Sejarah.
Sejarah
Benteng Vredeburg Yogyakarta
Foto Benteng Vredeburg
Benteng
Vredeburg (Saksi Kolonialisme Belanda di Yogyakarta).
Bangunan
yang terletak di ujung Jalan Malioboro ini merupakan satu saksi dari perjalanan
sejarah perjuangan Yogyakarta menentang kolonialisme Belanda. Benteng ini
dibangun oleh pemerintah Belanda guna melindungi rumah Residen Belanda
(sekarang menjadi Gedung Agung) dan pemukiman orang-orang Belanda dari
kemungkinan serangan meriam milik Keraton Yogyakarta. Sebelum dibangun menjadi
benteng, di tahun 1761 tempat ini merupakan parit perlindungan atau bunker bagi
tentara Belanda atau lebih dikenal dengan sebutan Rusten Burg.
Di
tahun 1765, Frans Haak mengubahnya menjadi benteng dengan mengambil model
benteng di daratan Eropa. Ini bisa dilihat dari ciri parit dalam yang
mengelilingi banteng, kemudian ada menara pengawas di setiap sudutnya dan
tembok lebar yang memungkinkan para serdadu berpatroli diatasnya dan menembak
dari tempat itu. Hingga kini, semua itu masih bisa disaksikan. Karena penguasa
Yogyakarta tidak berkenan dengan pembangunan benteng ini maka dibutuhkan waktu
23 tahun untuk menyelesaikannya, hal ini terjadi karena kurangnya suplai tenaga
kerja dari penduduk lokal.
Dalam
perjalanan sejarahnya, benteng ini sering dijadikan tempat penahanan pemimpin-pemimpin
Yogya yang membangkang terhadap pemerintah kolonial Belanda sebelum dibuang ke
luar Pulau Jawa. Di tempat ini pula kolaborator Belanda yang masih kerabat
Sultan, Danurejo IV merancang taktik untuk menangkap Pangeran Diponegoro, putra
tertua Sultan Hamengku Buwono III yang menentang Belanda.
Kini,
benteng ini telah beralih fungsi menjadi museum sejarah pergerakan kemerdekaan
Indonesia. Di dalamnya berisi diorama perjuangan yang menceritakan peran
penting Yogyakarta. Tak heran bila di halaman dalam banteng ini terdapat patung
Panglima Besar Sudirman dan Jendral Urip Sumoharjo.
Minggu, 05 Januari 2014
Biografi.
Ki Hadjar
Dewantara
|
|
|
|
Ki Hadjar
Dewantara
|
|
|
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
ke-1
|
|
|
Masa jabatan
2 September 1945 – 14 November 1945 |
|
|
Presiden
|
Soekarno
|
|
Didahului oleh
|
Tidak ada, jabatan baru
|
|
Digantikan oleh
|
Todung Sutan
Gunung Mulia
|
|
Informasi pribadi
|
|
|
Lahir
|
|
|
Meninggal
|
|
|
Agama
|
Islam
|
Sejarah Ki Hadjar
Dewantara
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD:
Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara,
EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan
Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal
di Yogyakarta, 26 April 1959
pada umur 69 tahun, selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau
"KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan
Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan
Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang
memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak
pendidikan seperti halnya para priyayi maupun
orang-orang Belanda.
Tanggal kelahirannya sekarang
diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani,
menjadi slogan Kementerian
Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah
sebuah nama kapal perang
Indonesia, KRI Ki Hajar
Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun
emisi 1998.
Ia dikukuhkan sebagai pahlawan
nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959
(Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28
November 1959).
Masa muda
dan awal karier
Soewardi berasal dari lingkungan
keluarga Keraton Yogyakarta.
Ia menamatkan pendidikan dasar
di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat
melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi
tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo,
Midden
Java, De
Expres, Oetoesan
Hindia, Kaoem
Moeda, Tjahaja
Timoer, dan Poesara.
Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan
tajam dengan semangat antikolonial.
Aktivitas
pergerakan
Selain ulet sebagai seorang wartawan
muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di
seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat
Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan
kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.
Soewardi muda juga menjadi anggota
organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik
yang didominasi kaum Indo yang
memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes
Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya
pula.
Als ik een
Nederlander was
Sewaktu pemerintah Hindia Belanda
berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan
kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun
1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia
kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu
untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling
terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli:
"Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De
Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913.
Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan
tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.
"Sekiranya
aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan
pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri
kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi
juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan
sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja
sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan
saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang
terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan
bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada
kepentingan sedikit pun baginya".
Beberapa pejabat Belanda menyangsikan
tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang
berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis,
mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis
dengan gaya demikian.
Akibat tulisan ini ia ditangkap atas
persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan
diasingkan ke Pulau Bangka
(atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto
Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke
Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai".
Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.
Dalam
pengasingan
Dalam pengasingan di Belanda,
Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische
Vereeniging (Perhimpunan Hindia).
Di sinilah ia kemudian merintis
cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga
memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang
kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya.
Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan
Barat, seperti Froebel
dan Montessori,
serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam
mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.
Taman Siswa
Soewardi kembali ke Indonesia pada
bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan
saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan
konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922:
Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional
Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya
menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di
depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat,
baik secara fisik maupun jiwa.
Semboyan dalam sistem pendidikan
yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara
utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa
berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.
("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi
dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat
Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.
Pengabdian
pada masa Indonesia merdeka
Patung Ki Hajar Dewantara.
Dalam kabinet pertama Republik
Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya
disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama.
Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari
universitas tertua Indonesia, Universitas
Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia
dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya
dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun
1959, tanggal 28 November 1959).
Ia meninggal dunia di Yogyakarta
tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Ki
Hajar Dewantara)
http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hajar_Dewantara
Langganan:
Komentar (Atom)













